Star Pulsa
Home » Blog » Kemenekraf Ungkap Masalah Besar di Balik Sulitnya Game Lokal Dijangkau Pemain

Kemenekraf Ungkap Masalah Besar di Balik Sulitnya Game Lokal Dijangkau Pemain

Putut Pujiono
25 Oktober 2026
3 menit baca
Kemenekraf Ungkap Masalah Besar di Balik Sulitnya Game Lokal Dijangkau Pemain

Luat menilai banyak studio mengandalkan model premium, yang mengharuskan pemain membeli game sebelum memainkannya.

Konsumen domestik, terutama di mobile, lebih akrab dengan game gratis atau free-to-play.“Bukan soal di kualitas kalau saya bilang, tapi di behavior spending.

Jadi perilaku spending-nya,” ujar Luat ketika ditanya soal daya saing game lokal dibandingkan produk luar negeri dalam acara WCCE 2026.Pasar Game Lokal Mobile Besar, Tapi…Menurutnya, kebiasaan itu perlu jadi pertimbangan studio yang ingin memperluas pasar domestik.

Pilihan platform juga menambah persoalan.

Luat menyebut penggunaan perangkat mobile terus berkembang di Indonesia, sedangkan PC menghadapi tantangan, termasuk soal kemampuan konsumen membeli perangkat. Sejumlah developer justru menggarap game untuk PC, sehingga platform yang mereka kembangkan belum tentu sama dengan perangkat yang paling banyak dipakai calon pemain domestik.Luat juga membandingkan Indonesia dengan Singapura.

Singapura banyak menjadi lokasi pendirian dan pencatatan perusahaan, sementara sebagian pasar dan kegiatan operasional perusahaan game ada di Indonesia.

Rata-rata pengeluaran pemain di Singapura mungkin lebih tinggi, tapi Indonesia unggul dari jumlah konsumen.Game lokal premium untuk PC tetap punya peluang, terutama jika menyasar konsumen internasional.

Untuk masuk ke pasar mobile Indonesia, developer perlu menyesuaikan model bisnis dengan kebiasaan pemain.

Pasar yang ingin dijangkau pun perlu ditentukan sejak awal pengembangan.“Jadi memang behavior itu yang belum match sebenarnya.

Jadi mau nggak mau, developer Indonesia kalau mau masuk di market-nya Indonesia sendiri ya harus merubah model bisnisnya,” ujarnya di hadapan media.Kemenekraf dan Tencent Tandatangan MoU, Tentang Apa?Laporan Access Partnership atas penugasan Tencent memetakan kontribusi ekonomi dan peluang pertumbuhan industri game di lima negara Asia Tenggara.

Kerja sama itu mencakup pengembangan kekayaan intelektual atau intellectual property, penguatan talenta, serta ekosistem industri game lokal dan digital.Luat menjelaskan, kesepakatan itu menjadi dasar untuk mempertemukan kebutuhan bisnis Tencent dengan kepentingan pemerintah mengembangkan industri kreatif nasional.

Pemerintah ingin kehadiran perusahaan asing tidak hanya memperluas bisnis di Indonesia, tapi juga membuka peluang bagi pelaku lokal, termasuk lewat penyerapan tenaga kerja dan kolaborasi bisnis. Karena itu, Kemenekraf mendorong Tencent bekerja sama dengan pengembang game lokal dan pemilik IP Indonesia.

Peluangnya bisa melibatkan sektor kreatif lain seperti fesyen dan kuliner.Salah satu peluang yang disoroti Luat adalah memperkenalkan IP Indonesia ke audiens internasional lewat produk Tencent.

Perusahaan asal China itu punya jaringan bisnis dan jangkauan konsumen global, sementara banyak IP Indonesia masih berfokus di pasar domestik.Kedua pihak juga membahas pelatihan desain game, monetisasi, kecerdasan buatan, komputasi awan, dan keamanan siber.

Tencent membuka peluang pendampingan bagi studio Indonesia, termasuk akses ke jaringan industri dan kesempatan menerbitkan karya game lokal ke pasar internasional.Kerja sama ini masih butuh tindak lanjut.

MoU berlaku tiga tahun dan akan dilanjutkan dengan penentuan prioritas program serta mekanisme pelaksanaan.

Belum ada pengumuman soal IP game lokal tertentu yang dipastikan masuk ke game Tencent.Game Indonesia Sumbang Rp 32,57 T, Studio Lokal Dapat Apa?Di sisi lain, industri game Indonesia diperkirakan menyumbang nilai tambah USD 1,8 miliar atau sekitar Rp 32,57 triliun bagi perekonomian dan mendukung sekitar 257.400 pekerjaan pada 2025.Angka tersebut tercantum dalam studi Access Partnership bersama Tencent yang dirilis di World Conference on Creative Economy2026 di Jakarta.

Laporan ini mengungkap tentang pembiayaan, pengembangan kekayaan intelektual, serta talenta sebagai kebutuhan penting agar studio lokal dapat memperoleh manfaat ekonomi lebih besar.Temuan tersebut tertuang dalam white paper berjudul “The video game industry: Unlocking the next level of economic and social development in Southeast Asia”.Tak hanya mengambil data dari Indonesia, Access Partnership juga mengumpulkan data-data industri game di negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura, Filipina, Thailand, dan Malaysia.

Cakupan penghitungan meliputi pengembangan dan penerbitan game, perangkat keras dan periferal, ritel, serta esports.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait

HomeDaftarDepositTransaksiHarga